Sunday, April 24, 2011

laporan hasil praktikum parasitologi

III. Hasil Praktikum

a.Pembuatan Larutan
Pada saat praktikum, semua praktikan dapat mencampurkan larutan dengan baik dan benar sesuai dengan komposisi.

b.Pengamatan Organ
Semua praktikan dapat membuka dan mengamati organ. Pada ventrikulus, intestinum dan caecum unggas tidak ditemukan cacing. Namun cacing ditemukan pada omasum domba.

     IV.Pembahasan
Pada praktikum ini, tidak semua larutan dibuat. Melainkan hanya beberapa. Diantaranya:
1. Larutan Garam Faali (NaCl Fisiologis 0,9%)
    Dibuat dengan menghomogenkan 9 gram NaCl dengan aquadest sampai 100 ml.

2. Larutan AFA (Alkohol Formol Acetic)
    Dibuat dengan menghomogenkan 9 gram NaCl dengan aquadest sampai 100 ml.
    Larutan ini dibuat dengan mencampurkan 10 bagian formalin 10% ditambah 50 bagian 
    alokohol 95% ditambah2 bagian asam asetat glasial ditambah 40 bagian aquadest.

3. Lactophenol
    Larutan ini dibuat dengan mencampur 2 bagian gliserin ditambah 1 bagian phenol  
    kristal (cair), ditambah 1 bagian asam laktat, dan 1 bagian aquadest.

4. Buffer pH 7-7,2
    Pertama dibuat terlebih dahulu membuat larutan A, dengan mencampur KH2PO4 6,7
    gram dengan Na2PO4H12 3o gram dan dihomogenkan dengan aquadest sampai 2 liter.
    Baru setelahnya kita membuat larutan buffernya. Larutan A tadi ditambahkan dengan
    aquadest 90 bagian. Setelah itu di cek kadar pH nya dengan pH meter.

5. Kalium Bikhromat 2%
    Kalium Bikhromat (serbuk) 2 gram ditambahkan aquadest sampai volumenya 100 ml.

6. NaCl jenuh
    Untuk membuat larutan ini, pertama kita siapkan NaCl 360 gram, lalu ditambahkan
    aquadest 1000 ml. Setelah itu dicek berat jenisnya.

Fungsi larutan yang telah dibuat diantaranya:
a. Larutan AFA (Alkohol Formol Acetic)
   Untuk menjernihkan kutikula trematoda dan cestoda

b. Larutan Lactophenol
   Untuk menjernihkan kutikula nematoda

c. NaCl jenuh
   Untuk mengapungkan telur cacing

d. Buffer pH 7-7,2
   Untuk menentukan kadar pH cacing, persiapan pewarnaan giemza pH 7 untuk
   mewarnai sitoplasma. pH 7,2 untuk mewarnai inti sel

e. Kalium Bikhromat 2%
      Untuk mensporulasi telur cacing

2. Parasit Pada Unggas

v Usus Halus
a. Ascaridia galli
·  Morfologi
Besar, mempunyai 3 buah bibir.panjang dewasa 2,5-10 cm. Tubuh bagian posterior cacing jantan mempunyai alae yang lebih kecil dan dilengkapi dengan 10pasang papilla yang kecil dan gemuk. Oesophagus tidak membentuk balbus. Pre cloacal sucker berbentuk sirkuler dan dilapisi oleh lapisan kutikula yang tebal. Spikula sama panjang berukuran 1-2,1 cm. Vulva terletak oval dengan dinding halus dan tidak bersegmen. Ukuran telur 73-92 x 45-57 mikron.

·  Daur Hidup
Daur hidup Acaridia galli pada ayam berlangsung 35 hari. Telur cacing akan keluar lewat tinja ayam dan menjadi mudigah (stadium larva) pada alas kandang. Telur cacing diatas kandang menjadi infektif dalam waktu 5 hari. Panas optimal tunas adalah 32-34ºC. Sewaktu ayam sedang makan, telur infektif tertelanyang kemudian menetas dalam perutnya. Larva cacing melewati usus dan pindah ke selaput lendir. Periode perpindahan mungkin terjadi dalam waktu 10-17 hari dalam perkembangannya. Dalam waltu 35 hari cacing menjadi dewasa dan bertelur. Setelah dewasa cacing akan meninggalkan selaput lendir dan tinggal di usus. Ayam yang masih muda akan sangat peka terhadap kerusakan yang ditimbulkan cacing ini. Dalam umur 2 atau 3 bulan, ayam akan membentuk ketahanan (imunitas) terhadap cacing gilig.

·  Gejala Klinis
Cacing gilig dewasa dalam jumlah sedikit tidak akanmembahayakan untuk ayam dewasa. Misalnya 10 ekor cacing dewasa dalam setiap ayam betina tidak membahayakan, namun 75-100 ekor cacing dapat mergikan. Kerugian terutama karana kerusakan pada organ yang bersangkutan dan menyebabkan pertumbuhan yang lambat karena kondisinya menurun akibat kesulitan dalam penyerapan sari makanan karena gigtan cacing.

·  Peubahan Pasca Mati
Kerusakan terbesar terjadi sewaktutahap perpindahan dari pertumbuhan larava cacing. Perpindahan dari dalamlapisan usus dapat menyebabkan radang, usus berdarah. Cacing Ascaris dapat ditemukan relatif banyak dalam lumen usus.

·  Diagnosis
Untuk kepastian diagnosis dapat dikirimkansampel tinja ke laboratorium terdekat atau BPPH dalam keadaan segar dingin, dan sebagian lagi dalam formalin 10%. Pada bedah bangkai, cacing sering ditemukan secara mudah dalam lumen usus, terutama pada ayam kampung atau unggas yang dilepas bebas dalam lantai tanah.

·  Pencegahan dan Pengobatan
Pengendalian dilakukan denganmencegah investasi cacing dan membatasi populasi lalat kandang sebgai pemawa sifat. Pengendalian harus diupayakan dengan penggabungan antara pengobatan dan tata laksana kandang. Beberapa obat dapat menghilangkan cacing dari usus ayam, tetapi dengan obat saja bukan pengendalian yang efektif. Piperasin merupakan obat cacingyang paling banyak digunakan untuk memberantas cacing gilig. Obat ini aman sampai dosis 10x lipat dari yang disarankan. Higromisin B, Meldane-2 dan Wormal. Hampir seyiap obat cacing dapat diberikan dalam makanan untuk 1 hari pengobatan. Piperasin juga dapat diberikan dalam air minum. Ayam pedagingyang dipelihara dengan alas kandang baru dan kandang yang bersih dapat dilindungi dengan1x pengobatan pada umur 35-40 hari. Ayam pedaging yang dipelihara dalam kandang bekas yang dipergunakan kembali harus diobati 4 minggu dan diulangi 1 minggu kemudian.

b. Raillietina cesticillus
·  Morfologi
Cacing ini berwarna putih kekuningan, tipis dan bersegmen. Bentuknya seperti pita dan lebar yang dapat melebar. Memiliki bentuk tubuh yang komplit, yaitu skoleks (kepala), leher dan strobilla (badan). Pusat perkembangan sedmen terletak di belakang kepala, yaitu pada bagian leher yang pendek. Segmen tubuh yang lain merupakan tempat reproduksi yang memiliki ovarium dan testes.

·  Siklus Hidup
Cacing dewasa hanya ditemukan di usus halus. Segmen terakhir pada bagian posterior terisi untuk telur cacing. Kemudian telur tersebut jatuh dan keluar melalui feses ayam. Telur dalam segmen tidak infektif untuk unggas. Telur dibawa atau disebarkan oleh lalat ataupun kumbang yang menghinggapi feses tersebut. Dalam tubuh lalat tersebut telur berkembang selama 18 hari dengan suhu 25-30ºC. Dalam suhuyang lebih rendah waktu perkembangan bisa menjadi 3-4 minggu (menjadi cysticeroids). Lalat atau kumbang yang terinfeksi dapat membawa sampai 1000 cysticeroids. Unggas dapat terinfeksi karena makan makanan yang telah dihinggapi lalat tersebut atau kumbang hospes perantara. Cysticeroids menjadi dewasa dalam waktu 11-13 hari setelah unggas terinfeksi.

·  Gejala Klinis
Caccing Raillietina tidak terlalu patogen, tetapi dapat merugikan karena menghambat penyerapan nutrisi dari unggas tersebut. Akibatnya unggas menjadi lambat pertumbuhannya. Selain itu terdapat lesi pada usus halusnya.

·  Pencegahan dan Pengobatan
Dapat dilakukan dengan Flubandezole 60 ppm yang dicampur dengan makanannya selama 7 hari. Bila belum sembuh juga, pengobatan dilakukan sampai 18 hari.

c. Capillaria obsignata
·  Morfologi
Cacing ini tinggal di usus halus. Ukurannya halus sperti rambut dan hidup menghisap darah.

·  Daur Hidup
Siklus hidup langsung dan tidak langsung. Penularan secara langsung dapat terjadi melalui pakan atau minuman dan bahan lain yang tercemar oleh telur cacing yang infektif. Penularan tidak langsung membutuhkan hospes perantara yaitu cacing tanah.

·  Gejala Klinis
Unggas yang menderita infeksi Capillaria dapat menunjukkan gejala emasiasi, diare dan enteritis. Haemoragik sebelum mengalami kelemahan. Lesi pada saluran penceranaan dapat menyebabkan gangguan digesti penyerapan makanan dan kinerja yang rendah dari unggas yang menderita penyakit tersebut.

·  Diagnosis
Dapat dilakukan dengan pengujian tinja yang dikirimkan dalam kemasan formalin 10% dan dalam keadaan segar dingin tanpa pengawet ke laboratorium penyidikan penyakit hewan. Cacing ini juga dapat dikirimkan dengan kemasan dalam formalin 10%.

·  Pengobatan
Beberapa jenis obat cacing seperti Kamotos, Higromisin B (12 gram/ton pakan selama 12 minggu), Habenzol. Obat lain yang dapat dipakai Pirantel Tetrat Penbendazol dan Mebendezol.

v Cacing Pada Proventrikulus
a. Tetrameres americana
·  Morfologi
Cacing jantan sangat kecil, hanya dapat dijumpai pada permukaan selaput lendir dan perut kelenjar. Pada saat kawin, walaupun ada jenis Tetrameres baik yang jantan maupun betina tinggal di dalam kelenjar.

·  Daur Hidup
Untuk perkembangannya secara lengkap, Tetrameres americana memerlukan induk semang perantara. Telur bertunas dimakan oleh sejenis belalang (Melanopius femurubrum) atau (Melanopius differentialis) dan sejenis kecoa (Blotella germanica) yang dalam waktu 42 hari menjadi larva infektif di dalam tubuh serangga tersebut. Setelah termakan oleh unggas,larva akan terlepas dan tinggal di dalam perut kelenjar. Dan dalam waktu beberapa hari tumbuh menjadi dewasa.

·  Gejala Klinis
Infeksi cacing Tetrameres yang berat pada ayam akan mengakibatkan kekurusan dan anemia. Investasi yang ringan tidak akan menimbulkan perubahan klinis yang berarti.
·  Diagnosis
Kepastian diagnosis didasarkan atas penemuan cacing dan pengujian tinja. Spesimen berupa potongan organ terutama perut kelenjar dan tinja dikirimkan ke laboratorium penyidikan penyakit hewan terdekat. Cacing yang ditemukan sewaktu bedah bangkai diikutkan dalam pengiriman.

·  Pencegahan dan Pengobatan
Pencegahan terhadap cacing ini dapat dilakukan dengan mengusahakan agar ayam tidak berkeliaran secara bebas dan diusahakan tidak makan induk semang perantara. Pengobatan untuk cacing ini belum ada yang efektif.

c. Dispharynx sp
·  Morfologi
Mempunyai ala anterior gambaran sebagai selendang (kordon).

·  Daur Hidup
Cacing ini ditularkan sewaktu ayam makan telur cacing bertunas atau cacing sawah yang berisi larva dan juga pada hospes perantara yaitu kepinding jenis Armadrilidium vulgare dan kepinding jenis Porceillo scaber.

·  Gejala Klinis
Ayam yang terinfeksi mengalami miemasiasi dan anemik, kerap kali terlihat berwarna merah terang dalam dinding proventrikulus. Pada ayam dinding proventrikulus biasanya menebal sehingga lumen akan mengecil.

·  Diagnosa
Cacing ini kerap kali menimbulkan ulser pada proventrikulus refreksi berat. Dinding proventrikulus sangat menebal dan cacing ditemukan dibagian bawah jaringan yang berpoliferasi.

·  Proventrikulus
Mengusahakan agar ayam tidak berkeliaran secara bebas dan diusahakan agara tidak makan induk semang perantara.


v Cacing Pada Sekum
 a. Heterakis gallinarum
·  Morfologi
Dijumpai di usus buntu. Dewasa berukuran 1-1,25 cm. Dampak pada hospes relatif kecil tetapi dapat menyebabkan penyebaran histomoniasis (kepala hitam).

·  Daur Hidup
Cacing keluar tinja dan dalam waktu 2 minggu pada kondisi sesuai, cacing akan mencapai tingkat efektif. Apabila telur ini tertelan hospes, mudigah akan menetas di usus bagian atas. Dalam waktu ± 24 jam seluruh cacing akan mencapai usus buntu. Cacing muda akan tetap tinggal dalam usus buntu setelah pembedahan / dapat selama 3 hari.

·  Gejala Klinis
Gejala umum terjadi bervariasi tergantung derajat investigasinya, umur dan jenis yangterserang. Pada umumnya dimulai dari gejala kelemahan. Boros pakan dan berat badan turun.

·  Diagnosis
Untuk penangguhan diagnosis perlu dikirim contoh tinja yang dikemas dalam kantong plastik ke lab dalam keadaan segar dingin, sebagian dalam formalin 10%. Bila ditemukan, cacing dikirimkan beberapa ekor dalam alkohol 70%.

·  Pencegahan dan Pengobatan
Dengan Fenotiasin B, atau Meldane-2 untuk menghilangkan cacing usus buntu. Setelah pengobatan, kelompok unggas dipindahkan dalam kandang yang tidak terinfeksi.

3. Domba
v Usus Halus
a. Tetrameres sp
·  Morfologi
Cacing ini desebut cacing cambuk, karena salah satu ujung tebal dan ujung lainnya panjang tipis. Seperti cemeti disebut juga cacing ekor cambuk. Ujung posterior cacing betina sedikit melengkung. Vulva dekat dengan batas antara posterior dan anterior tubuh. Telur mempunyai kulit tebal kecoklatan dengan sumbatan di kedua ujungnya dan belum bersegmen ketika dikeluarkan.

·  Daur hidup
Langsung, tidak ada induk semang antara dan infeksinya dengan cara termakannya telur yang berisi larva. Telur infektif sangat resistem dan dapat hidup dalam beberapa bulan atau bahkan tahun. Perkembangan di dalam induk semnag definitif tampaknya berlangsung di dalam lumen usus.

·  Gejala Klinis
Cacing dijumpai terutama di dalam sekum,melekat pada mukosa dengan ujungnya, depan. Seperti sebuah jarum di dalam sebuah kain.

·  Pencegahan
Hewan-hewan yang berada di dalam kandang dibersihkan tinjanya sesering mungkin, sediakan tempat yang bersih dan telah didesinfeksi atau pada rumput yang tidak terinfrksi cacing untuk melahirkan anak-anak hewan tersebut.

b. Moniezia expanza
·  Morfologi
Alat kelamin ganda. Terdapat lubang kelamin lengkap dengan sinus, vagina, ovarium, dll. Pada setiap sisi proglotida. Merupakan cacing pita. Proglotida mempunyai lebar 1,6 cm. Telurnya besar berbentuk segitiga dan diameter sekitar 56-67 mikrometer. Cacing ini mempunyai deretan kelenjar interproglotida tersusun mengelilingi celah disepanjang batas posterior dari setiap proglotida.

*Maaf terpotong, nanti sy lengkapi lg. Maaf ya :)

2 comments:

  1. bagus artikelnya, tp gak ada daftr pustakanya yaa

    ReplyDelete
  2. ada, tapi terpotong. ternyata file nya udah ga ada, maaf yaa.. :(
    nanti sy coba buka-buka laporannya trus sy posting ulang :)

    ReplyDelete